Kalau kamu dilanda suka, kamu beruntung punya kawan yang setia.
Disaat tertancap panah asmara, kamu terus-terusan bercerita tentang kekasih, berkobarkan api semangat.
Walaupun ceritamu diulang-ulang, tidak apa-apa kok. Sang kawan takkan jenuh mendengarkan.
Kawanmu yang setia, pasti memaklumi insan yang rasionya sedang diburamkan oleh cinta.
Yang terpenting baginya adalah kebahagiaanmu.
Kalau kamu dilanda duka, kamu beruntung punya kawan yang setia.
Kamu bisa bersandar di bahunya sambil berkeluh kesah, melampiaskan amarah dan kekecewaan.
Ia pasti juga akan rela apabila bajunya basah, dihujani oleh air matamu....
Akan tetapi, pernahkah kamu berdiri di atas sepatu kawanmu?
Pernahkah kamu masuk ke dimensinya?
Hah, belum? Kemana saja, kamu?
Apakah kamu terlalu sibuk dengan ke-aku-an mu?
Baik, pegang tanganku erat-erat.
Akan kubantu dirimu untuk mengintip isi hati kecilnya.
Lihat!
Ternyata, dia menyimpan luka di balik wajah perhatiannya saat mendengarkan ceritamu.
Ketika pada gilirannya ia ingin menebarkan motivasi, kamu terkantuk dan bilang, "Bisa besok saja ceritanya?"
Ketika ia mau bercerita tentang kegalauannya, kamu sibuk bermain gawai.
Ketika ia bercerita seputar kekasih hati, pada akhirnya justru kamu yang cerita lebih banyak.
Ketika ia bercerita tentang amarahnya, semalam suntuk, kamu menjawab singkat dan acuh, "Yang sabar ya."
Hingga pada suatu hari, musibah besar menimpanya.
Sesungguhnya ia ingin bercerita kepadamu. Tetapi, dia sadar bahwa kamu tidak akan mendengarkan.
Akhirnya, ia memendam dukanya sendirian.
Aku tak tahu dia bisa bertahan seperti itu sampai kapan, sebelum jadi gila.
Jelas, dia memilih untuk memendam rasa sedihnya sendiri.
Apa yang bisa diharapkan dari kamu, manusia yang berorientasi pada dirinya saja?
Hanya bisa cerita, tetapi tidak bisa mendengar.
Dua telinga yang kau miliki seolah seperti pajangan saja.
Sudah, aku tidak ingin marah atau mencari musuh. Tidak ada gunanya.
Aku hanya ingin mengatakan secara baik-baik kepadamu, kamu masih belum terlambat untuk merubah situasi.
Masih ada waktu untuk membuka telingamu lebar-lebar.
Masih ada waktu untuk menyingkirkan rasa ke-aku-an mu yang berlebihan.
Masih ada waktu untuk menempatkan diri di atas sepatunya.
Datangi dirinya.
Tanyakan, apa yang terjadi.
Saat ia mulai bicara, tatap matanya dengan fokus.
Saat ia bercerita, jangan potong ceritanya. Biarkan ia berbicara selama yang ia inginkan.
Oh ya, singkirkan juga gawaimu.
Setelah ia bercerita, peluklah dirinya erat-erat.
Berilah kata-kata penyemangat dan jangan hakimi dia.
Dengan demikian, ia akan lega.
Pada akhirnya ia punya tempat untuk berlabuh di kala riang dan tangis.
Stella Harefa, ISFJ. Last year student of Universitas Indonesia. Little bit cold in the real life, little bit freak in my inner circle, and little bit dramatic in my blog.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Selangkah Lebih Maju dalam Mengapresiasi Batik: Ketahui Makna Dibalik Motifnya
Sebagai warga Indonesia, tentunya kita boleh bangga karena batik sudah go international , dikenakan oleh public figure dari negeri bar...
-
Kalau kamu dilanda suka, kamu beruntung punya kawan yang setia. Disaat tertancap panah asmara, kamu terus-terusan bercerita tentang kekasih...
-
Sebagai warga Indonesia, tentunya kita boleh bangga karena batik sudah go international , dikenakan oleh public figure dari negeri bar...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar